Aroma sate madura ini memang tidak main-main. Aku baru membuka satu bungkus yang berisi 10 tusuk lengkap dengan lontong. Tyas sudah tidak sabar menungguku membuka bungkus yang kedua.
Malam ini memang spesial. Aku mengajak Tyas bertemu; di tempat yang sama, selalu tempat yang sama, di bawah pohon kersen di belakang mesjid.
Aku bertemu Tyas beberapa bulan lalu di sebuah tempat les bahasa Inggris.
"You're not afraid?" suatu malam ia menghampiriku di teras tempat les.
"Of what?"
"Life," ia melanjutkan, "Aku berharap hidup akan semanis drama Korea."
"Sebutkan tiga drama Korea terbaik menurutmu!" Aku menantang.
"I Can Hear Your Voice, Signal," ia berpikir sejenak, "Ah, Tunnel."
Aku tersenyum dan menjabat tangannya. Setidaknya tidak ada drama produksian Netflix, pikirku.
"Menurutku, drama Korea sekarang membosankan," aku mengawali pembicaraan dengan topik yang sensitif.
Ia mengangguk, "Aku sudah lama tidak menonton drama Korea."
Percakapan itu berubah menjadi obrolan panjang. Sekitar pukul 10 malam, kami berpamitan karena penjaga tempat les sudah mulai menutup pintu dan hendak mengunci pagar.
Aku hanya bertemu Tyas setiap hari Jumat, karena jadwal lesku memang cuma seminggu sekali. Kami lebih banyak bicara hal-hal besar dan jarang membahas hal pribadi. Sehingga, jangan tanya mengapa aku tak tahu di mana ia tinggal. Aku tahu apa makanan kesukaanya, Sate Bandeng; tapi aku tidak pernah bertanya mengapa dia les, naik angkot jurusan apa ia ke tempat les. Nomor teleponnya pun bahkan aku tak punya.
Setelah dua bulan, aku bilang pada Tyas kalau aku tak akan melanjutkan les.
"Uang kan bisa dicari," begitu katanya soal biaya bulanan les yang tidak murah. Ada kekecewaan dari nada bicaranya.
Lalu aku memberanikan diri, "Bagaimana kalau kita bertemu di tempat lain?"
"Apa maksudmu?"
"Aku senang bicara denganmu, setelah bulan ini, bagaimana kalau kita bertemu di dekat rumahmu, misalnya?"
Tyas tak langsung menjawab. "Di mana memangnya rumahmu?"
"Di dekat masjid Al Ikhlas," kataku, tak berharap Tyas tahu.
"Ah, ada rumah tanteku di sana. Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertemu setiap Jumat malam di belakang mesjid?"
Aku sepakat. Setidaknya, Tyas menjadi sosok yang akhirnya bisa aku ajak bicara soal hal-hal tidak penting dalam kepalaku. Dan itulah awalnya mengapa aku selalu bertemu dengan Tyas di tempat yang sama, di hari yang sama.
Aku biasanya datang duluan, lalu Tyas tiba tak lama setelahnya. Kami tak saling mengabari, karena kami sepertinya saling mengerti dan memahami.
"Bagaimana kabar Ria?" tanya Tyas sambil mulai memakan lontong.
Aku sebenarnya tak begitu suka Tyas membahas sahabat perempuanku itu. Soalnya, Ria yang paling menentang aku bertemu dengan Tyas.
"Ya mau bagaimana lagi," aku mengangkat bahu. "Aku sudah bilang padanya untuk tak usah dioperasi, tapi dia lebih percaya omongan fansnya di Tiktok."
"Tapi dia cantik kok," kata Tyas.
"Dengan hidung barunya?"
Tyas mengangguk.
"Tapi itu tidak seperti dia."
"Manusia itu berubah," Tyas berhenti sejenak, menancapkan sedotan pada air mineral gelas bermerek Vit. "Termasuk perasaannya."
Aku bingung Tyas membicarakan apa.
"Ria sepertinya suka padamu," kata Tyas memalingkan wajah.
Belum sempat aku mengelak, Tyas memotong, "Tapi kalian cuma sahabat? Itu kan alasannya? Sebaiknya, mulai sekarang, kamu mendengarkan dia. Untuk kebaikanmu sendiri."
Aku tak menjawab, karena Ria memang selalu menentangku untuk bertemu dengan Tyas. Karena ini hubungan kami memang agak renggang. Aku dan Ria adalah teman sejak SMA. Hingga usia 21 tahun, kami masih bersama. Aku tak punya pacar, tentu saja, sedangkan Ria tak terhitung jumlahnya. Aku tak merasa kami cocok sebagai pasangan; hanya sebagai teman. Namun, sebagai teman aku memang merasa kami berlebihan.
Setiap pagi, Ria selalu membangunkanku, lewat telepon; jangan berpikir yang aneh-aneh. Pukul setengah tujuh pagi, ia mendobrak pintu kamar kosku dan membawakan makanan. Atau terkadang kami sarapan di luar. Setelahnya aku mengantarkan Ria ke kampus, menurunkannya di tepi jalan, membukakan tali helmnya.
Pernah suatu hari aku didatangi oleh salah seorang kekasihnya dengan membawa teman-teman geng motornya. Aku diinterogasi dan hampir dipukuli karena tak bisa menjawab apa hubunganku dengan Ria. Untungnya, Ria cepat datang dan mengakui kalau aku adalah sepupunya. Kekasihnya itu minta maaf, lalu aku memberikan kakiku untuk dicium olehnya. Enak saja cuma minta maaf.
Setiap malam, Ria selalu menelpon. Sekadar untuk mengucapkan selamat malam, atau mengingatkan makan. Sampai akhirnya hubungan kami merenggang sejak aku mengenal Tyas. Ria tak suka. Aku pernah menceritakan ini pada Tyas dan sejak itu pula, ia tampak tidak sebersemangat seperti ketika kami pertama kali bertemu di tempat les.
Setelah keheningan yang cukup panjang, Tyas membungkus sisa makanannya yang masih banyak. Ia memasukkan ke kresek hitam yang tadi. Tyas berdiri.
"Kalau begitu aku pamit ya," jawab Tyas.
Aku cuma mengangguk. Tyas pergi. Hanya wangi safron dari parfum Dark Secretnya yang masih tinggal. Aku merenung sejenak. Apa yang salah?
Tyas itu baik. Dia selalu mendengarkan ceritaku, keluh kesahku. Dia juga tak pernah memojokkanku. Kami pun selalu berbagi lelucon yang sama. Satu hal yang pasti, Tyas juga tak pernah menjelek-jelekan Ria. Tapi apa yang bikin Ria begitu tak suka? Atau mungkin betul kata Tyas, kalau Ria punya rasa untukku?
Aku beranjak dari tempatku duduk dan membereskan sisa makanan. Aku masukkan Vit gelas yang masih penuh itu ke dalam keresek hitam.
Aku berjalan perlahan, berusaha mengingat dengan keras mengapa Ria tak suka pada Tyas; dan aku tahu jawabannya: karena Ria tak suka pada yang sudah tak bernafas.
Aku lalu mendumel, "Apa salahnya punya teman hantu?"
Aku menatap ke atas, ke antara pohon-pohon bambu; dan tak seperti biasanya, Tyas kali ini tak mengantarku sampai ke rumah.