Aku sedang makan bento saat Firaun duduk di hadapanku.
"Tak usah belagu kalau makan masih sendirian," katanya sembari mengangkat satu kakinya.
Ia memasukkan salad mayonaise milikku ke mulutnya.
"Buatku ini cuma cemilan," Firaun lanjut menyesap sup tahu.
"Aku adalah penguasa dunia, termasuk kamu di dalamnya!"
Spontan, aku terbatuk karena tak bisa menahan tawaku.
"Tuan," aku menatap matanya, "kamu tidur nyenyak setiap malam?"
Firaun mengangguk dengan penuh kebanggan.
"Akulah penguasa malam. Saat kau tidur nyenyak, aku justru menunggu kabar;
dari seseorang yang mungkin tak peduli kalau aku ada."
Firaun tertegun, "Aku penguasa dunia, karena aku punya banyak harta."
"Berapa banyak yang Tuan punya?"
Firaun memanggil penjaganya yang kemudian memberinya iPhone 17 oranye cash.
Dari layarnya, ia memperlihatkan padaku satu kolam besar,
yang harusnya diisi air mengalir, tapi ditimbun emas batangan.
Aku lalu merogoh sakuku, ku keluarkan uang 82 ribu dan saldo Brimo sebesar dua juta rupiah.
"Hartamu memang banyak, tapi ada satu yang tak bisa kamu beli dengan uang," kataku sambil menutup aplikasi Brimo.
"Waktu?" ia menjawab tanpa ragu.
Aku tersenyum meremehkan, "Jelas bukan."
"Biasanya waktu, kan?" Firaun mengernyitkan dahi.
Aku sebenarnya memang akan menjawab "Waktu", tapi itu jawaban yang terlalu biasa.
"Lantas?"
"Kesombongan," kataku mantap.
Firaun menggebrak meja. Dia tidak terima. Karyawan Ahok Bento celingak-celinguk mencari tahu asal keributan.
Firaun menatap mataku tajam, ia berusaha melotot tapi tidak bisa, karena ternyata dia orang Korea.
"Aku mungkin bukan penguasa malam, tapi Seoul dan sungai-sungai yang mengalir di dalamnya tak lain karena kehebatanku," ujarnya.
"Tuan tidak salah, tapi," aku menyandarkan tubuhku ke sandaran sofa, "pernahkah Tuan mengejar perempuan yang Tuan sukai?"
Firaun berpikir sejenak, lalu menggeleng, "Tidak, aku menunjuk perempuan manapun yang aku sukai dan menjadikan mereka milikku."
"Lalu, pernahkah Tuan bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan, dan mengirimi perempuan itu makanan?"
"Untuk apa? Mereka bisa memetik sendiri buah yang mereka sukai di Kebun Chungyang"
"Buah apa kalau boleh tahu?"
"Cabai rawit."
"Itu lebih ke sayur gak sih?"
Pengawal Firaun mengangguk tanda setuju.
Firaun memelototi pengawal bertubuh gempal itu--kita sebut saja namanya Potifar. "Apa menariknya membikin bekal? Semua orang juga bisa?"
"Aku mengiriminya bekal, hanya untuk melihatnya sarapan bubur bersama seorang pria."
Firaun menarik nafas, ia tampak mengasihaniku, "Itu kekasihnya?"
Aku hampir tak bisa menjawabnya, suaraku tercekat, "Itu debt collector dari Adira."
Firaun hampir menempelengku. Ia merentangkan tangannya untuk menahan Potifar yang hampir memukulku dengan sapu.
"Pekerjaan kekasihnya memang debt collector," aku menjelaskan.
Terdengar suara "Oh" panjang bersamaan, dari mulut Firaun, Potifar, dan pegawai Ahok Bento, yang tiba-tiba sudah duduk di sampingku.
"Lalu?" pegawai Ahok Bento bernama Purnama menyela.
"Aku menaruh bekal itu di meja resepsionis tempat dia bekerja, dan menuliskan pesan di atasnya."
Aku melihat ketiganya penasaran, apa pesan yang kutuliskan. Lalu aku memperlihatkan foto di handphone Redmi Note 8 milikku. Tampak secarik kertas putih dan tulisan dengan huruf kapital.
Potifar membaca keras-keras: "Pilih hidup sehat atau hidup Jokowi?"