Habis

Setelah menutup gerai, akupun duduk pada trotoar;
yang selalu tahan diinjak-injak,
yang dijadikan tujuan dahak,
yang jadi tempat kecoa beranakpinak.

Aku memang bukan chef yang andal.
Namun, banyak orang yang makan berjam-jam, hingga larut malam.

Tadi malam pun demikian, pada satu orang pelanggan.
Mulanya kuberikan ia oseng mercon yang membuatnya kepedasan.
Kuberinya teh dari botol kaca.

Ia minta tambah.
Kuberinya cheesecake rasa matcha. 
Terlalu manis, katanya. 

Lalu, kumasak Indomie Tori Kara;
dengan empat buah baso Kanzler, sebagai pendampingnya.
Kuberinya teh ocha, meski tak bikin segar tapi ia bisa bernyanyi lagu "Pudar".

Aku menyiapkan telur setengah matang,
tapi ia malah bersiap pulang.

Ku tanya, apa yang kurang?

Ia tak menggubris; pelan suaranya sambil berbisik,
dengan sinis:

Makanannya sudah habis.

Dari langit di trotoar itu, bintang-bintang membentuk sebuah tanda;
hidup hanyalah bisnis di atas secarik nota.