Tembok itu pun mengalah, ia akhirnya buka suara.
Dia pasti merasa kasihan, padaku yang tak mau diam;
yang masih bicara padanya hingga larut malam.
Tembok itu bilang kalau tak ada artinya;
bicara pada sesuatu yang tak menjawabmu;
yang tak sungguh-sungguh peduli pada hidupmu, dan ceritamu.
Tembok itu bertepuk tangan; ia memujiku yang mirip seperti cucian:
tahan didiamkan sepanjang malam.
Dia bertanya apakah itu betulan perasaan, atau kamu cuma penasaran.
Perasaan itu bisa diisi ulang, katanya.
Penasaran, makin lama makin usang;
lama-lama dia akan bosan.
Malam hampir berakhir,
Tembok itu minta untuk tak bicara padanya lagi.
Walau menyakitkan tapi setidaknya
ia pergi dengan berpamitan.