Badminton

Aku tidak menyangka wawancara pertamaku sebagai wartawan junior harus membawaku ke Yokohama. Gilanya lagi, orang yang kuwawancarai adalah Unmei Kataomoi, pebulutangkis Jepang yang baru saja memenangi Olimpiade.

Di cafe Anniversarie, Unmei ternyata sudah tiba. Ia tengah duduk di sofa sambil menyesap coklat panas. Aku dibikin bingung karena Unmei tidak menungguku sambil memainkan handphone-nya. Ini cukup aneh karena sepanjang berkorespondensi, aku tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan balasan pesan darinya. Yang dilakukannya adalah memandang keluar jendela, menuju pada kanal dengan latar gedung-gedung tinggi Yokohama; seolah tengah menunggu sesuatu.

Cafe Anniversarie sendiri berada di sebelah bianglala Cinema Clock 21 yang terkenal. Ruangannya modern dengan cat berwarna coklat terang yang memberikan rasa nyaman buat siapapun di dalamnya.

Ketika mendekatinya, Unmei langsung berdiri. Dengan wajah terkejut, ia membungkukkan badan sambil memberi salam. 

"Ohayou, Selamat Pagi," kata Unmei.

"Eh," aku yang tak enak ikut membungkukkan badan, "Apakah aku terlambat? Kalau tidak salah kita janjian pukul delapan?"

Unmei mengangkat tangan kanannya, mengecek waktu pada jam Casio-nya yang menunjukkan pukul 7.50. 

"Mohon maaf, aku hari ini latihan siang, jadi aku tiba lebih awal," Unmei mempersilakanku duduk, "Apakah tak apa?"

Aku mengangguk. Unmei pun mempersilakanku untuk memesan makanan. "Juara dunia yang bayar," katanya. 

Anehnya, aku tak merasakan kesombongan dari nada bicaranya, karena Unmei adalah sensasi dunia. Ia baru terkenal di usianya  yang sudah 30 tahun. Kariernya bagai roket, mulai dari juara nasional hingga memenangi Olimpiade tanpa kesulitan. Ia selalu menang dalam dua set. Di final, lawannya yang dari Denmark ia kalahkan dengan skor 21-13, 21-12 dengan durasi hanya 31 menit. Ia seperti tak memberi ruang untuk kalah.

Aku lega karena tak perlu banyak bertanya. Sebab, Unmei yang lebih banyak bercerita. Aku cukup kaget karena ia mengaku sebagai seorang cancer introvert. Sebuah kombinasi yang mengerikan untuk para pewawancara.

Sampai akhirnya tiba di pertanyaan terakhir. Ini biasanya pertanyaan basa-basi, agar wawancara tidak berakhir menggantung.

"Apa yang membuatmu akan selalu mencintai badminton?"

Anehnya, aku merasakan perubahan suasana usai melontarkan pertanyaan itu. Mata Unmei yang awalnya berbinar, pelan-pelan hilang menjadi kosong. Ia menarik nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Matanya yang sedari tadi menatapku, kini menghilang ke langit-langit cafe.

"Dega," Unmei mulai bicara. "Ada alasan mengapa aku baru bermain badminton di usia 25 tahun."

Unmei memang berbeda dari pebulutangkis lain yang mengawali karier sejak kecil. Sebelum menjadi atlet, Unmei adalah seorang desainer interior. The Sims 4-lah yang membuatnya tertarik untuk memberikan nyawa pada sebuah ruangan. 

Tidak perlu waktu lama baginya untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah. Ia mulai mendesain toko ramen kecil di ujung jalan, hingga sebuah restoran mahal di gedung bertingkat. Salah satu karyanya adalah cafe Anniversarie ini, yang ia desain lima tahun lalu, persis sebelum memutuskan menjadi atlet.

"Dega, apa yang kau rasakan setelah duduk di cafe ini?"

"Jujur, aku merasa nyaman dan tenang, jadi tak ingin pulang," jawabku.

"Memang arsitek yang mendesain bangunan ini dengan sangat indah, tapi desainer interior-lah yang memberinya nyawa. Dan aku sengaja menjadikan Anniversarie sebagai ruang yang bisa dimaknai berbeda-beda oleh banyak orang."

Unmei melanjutkan, "Ada yang merasa ini seperti rumah, tidak sedikit pula orang-orang yang jatuh cinta. Namun, buatku, Anniversarie adalah ruang untuk sembuh."

"Dari?"

"Aku tidak pernah jatuh cinta, kecuali satu kali. Itu adalah delapan tahun lalu," Unmei bercerita.

Perempuan itu bernama Kirei Megane, rekannya di tempat kerja. Mereka lulus dari universitas yang sama, tapi Kirei lebih muda tiga tahun. Karena pekerjaan, keduanya menjadi sering bersama-sama, termasuk saling bercerita, dan menanyakan kabar.

Hingga pada suatu hari, Kirei mulai tak lagi membalas pesannya. Kalaupun dibalas, itupun kadang-kadang.

"Di-chat Senin, dibalas Kamis?" aku tertawa.

Unmei hanya mengangguk.

"Dari situ aku tahu, kalau ini akan ada akhirnya. Semua rutinitas selama setahun itu harus terhenti tanpa ada alasan yang jelas," kata Unmei.

Benar saja, tak lama Kirei mengundurkan diri dari pekerjaannya. Semua media sosialnya menghilang, pun dengan kontak Whatsapp-nya. Yang utuh, hanya history percakapannya, termasuk reels lucu, video Tiktok dan pesan-pesan kecil yang tak pernah tega dihapusnya.

Selama hampir setengah tahun, Unmei hidup dalam kebingungan. Sampai akhirnya ketika ia mengerjakan proyek di Yokohama, ia bertemu dengan teman masa kecilnya, Kyu Seishu, yang merupakan arsitek cafe Anniversarie. 

"Kyu menawariku proyek mendesain cafe ini," kata Unmei. "Tapi, bukan itu yang membuatku berhenti menjadi desainer interior."

"Lantas?"

"Itu adalah ketika Kyu mengajakku bermain badminton."

"Dari badminton aku sadar," Unmei berhenti sejenak. Ada senyum yang tak lagi dipaksakan dari wajahnya. Ia menarik nafas panjang. 

"Dari badminton aku sadar, bahwa setiap pukulan pasti dikembalikan. Tidak seperti perasaanku; tidak seperti pesanku, yang dibiarkan jatuh menyentuh lantai sendirian," ujar Unmei.

"Saat aku memukul shuttlecock, lawan pasti membalas. Walau aku memukulnya 2000 kali, mereka pasti akan membalasnya, membuatku memukulnya 2001x."

Aku pun sangat memahami maksud dari Unmei. Karena tidak seperti shuttlecock, beberapa perasaan memang tak pernah menyebrangi net.

"Setidaknya, shuttlecock selalu memiliki arah pulang," tutup Unmei sebelum berpamitan untuk latihan.

Aku masih duduk di cafe Anniversarie, menatap kanal di luar jendela dengan latar gedung tinggi Yokohama. Lalu, aku sadar satu hal: alasan jendela besar di Anniversarie dibuat menghadap ke kanal adalah agar orang-orang punya sesuatu untuk dipandangi ketika tidak tahu harus menatap pada siapa lagi.

Beberapa orang membangun rumah, menjadikannya tempat singgah. Namun, Unmei membangun ruang untuk menyembuhkan patah hati dari seseorang yang pergi tanpa berpamitan, yang tiba-tiba menghilang.

Sebelum pulang, aku baru menyadari sesuatu. Meski fasih bahasa Jepang, tapi aku baru sadar kalai dalam bahasa Jepang, "Unmei Kataomoi" berarti "Takdir cinta tak berbalas".

Dega Saptyanu Yuthi melaporkan langsung dari Yokohama.